TANTANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA ERA INDUSTRI 4,0 dan SOCIETY 5.0: KONTEKS SOSIAL BUDAYA, TEKNOLOGI DAN RELIGI

Kegiatan Program Profesor Go to School kerjasama antara LP3 UNNES dengan Kantor Kementerian Agama Kab Demak cukup antusias diikuti oleh kalangan guru mata pelajaran Matematika MTS, MA se Kab. Demak berlangsung di komplek kampus MAN Demak pada hari Kamis, 22 Agustus 2019. Dua profesor sebagai nara sumber, Prof Dr. Hardi Suyitno, M.Pd dengan Prof. Dr. YL Suksetiyarno, M.Si menyajikan materi tentang Pembelajaran dan Aplikasi Matematika di era Industri 4.0 dan Society 5.0 abad ke XXI.
Sukestiyarno memaparkan bahwa pembelajaran matematika perlu diajarkan dengan suasana yang menyenangkan dan aplikatif dengan contoh-contih nyata keseharian. Konsep pembelajaran matematika yang hanya cenderung teoritis akan membuat para siswa bosan dan kurang termotivasi menyelesaikan soal-soal yang sesungguhnya menarik dan bermanfaat sebagai alat bantu untuk mengasah logika berfikir. Matematika harus bisa menggelitik para siswa untuk menggali, mencari solusi dan terus menerus ingin tahu menyelesikan permasalahan. Konsep pembelajaran matematika diharapkan mampu mendorong pula para siswa untuk terus menjelajah materi-materi baru yang update dan dirasakan sebagai isue yang menarik kekinian.
Dalam konteks era Industri 4.0, Ia berhadap para guru peserta PGtS untuk terus kreatif menelaah dan mengkaitkan ramuan pembelajaran yang sesuai dengan elemen kehidupan dan tantangan teknologi yang berkembang. Guru harus kompeten mengelaborasi materi ajar dan kehidupan riil, sehingga tercipta suasana kelas yang akan terbentuk suasana discovery learning. Ia merujuk pembelajaran matematika yang terjadi di negara-negara maju, suasana pembejaran menjadi sangat menyenangkan dikarenakan guru sebagai fasiilitator mengedepankan para siswa sebagai pusat perhatian sambil memberikan kebebasan menemukan jawaban persoalan secara mandiri. Kemajuan era teknologi informasi dengan segala positf dan negatifnya oleh guru dihadirkan sebagai isue-isue manarik dalam diskusi kecil para siswa.
Pada ahir penyajiannya, Sukestiyarno memberikan kesempatan pada peserta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan maupun sharing pengalaman tantangan dan kendala terkait dengan implementasi proses pembelajaran matematika modern secara nyata di sekolah. Banyak tip dan trik yang disampaikan oleh pembicara pertama tersebut untuk mengentaskan persoalan.
Pembicara sesi ke dua mengetengahkan konteks “Sosial dan Kebudayaan” yang ditawarkan sebagai sumber belajar pembelajaran matematika yang menarik dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. Sesuai dengan semangat zaman Society 5.0, Prof Hardi Suyitno sangat piawi menghubungkan benang merah situasi kekinian dan kehidupan keagamaan yang dikemas dengan konsep filsafat dan logika matematika. Hardi membuka wawasan para peserta untuk mengajarkan kepada anak didik menguasai ilmu matematika dengan aplikasi nyata menjalankan kehidupan soal keagamaan sesuai konteksnya. Kompetensi guru matematika sangat relevan dan urgen mendorong para siswa madrasah memahami dan memaknai perintah nash-nash keagamaan dengan baik.
Sebagai pakar pendidikan matematika, Prof Hardi mengajak kepada para guru agar bisa meyakinan para siswa bahwa menguasai matematika bisa mengantarkan manusia masuk ke surga selama konsep logika matematika dikaitkan dengan ilmu agama secara komprehensif. Konsep matematika harus dapat menjadi nurturen effect dalam pembentukan iman dan taqwa. Ia menegaskan bahwa belajar matematika bisa dikategorikan sebagai fardu ‘ain.
Tantangan abad ke XXI yang sarat dengan teknologi juga dikatikan secara gamlang oleh Hardi Suyitno dengan strategi pembelajaran matematika sebagai modal mencapai kemajuan suatu bangsa. Lewat matematika diharapkan para guru mengantarkan para siswa lebih mudah memahami alam semesta dan keagungan Allah swt. Penanaman nilai-nilai keagamaan sebagai dasar menguatkan moralilatas di tengah-tengah tantangan di era disrupsi menjadi urgen bagi proses pembejaran matamatetika di samping ilmu-ilmu lain yang mencerahkan.
Dalam konteks Society 5.0, pembelajaran mata ajar apapun harus mampu membangun ketahanan akhlak, harkat dan martabat manusia dan kehidupan religius yang kuat. Dalam situasi yang tidak sedikit mengkoyak moralitas para generasi muda, pendidikan (matematika) menurut Prof Hardi harus mampu mengantarkan peserta didik untuk berani jujur, sportif, tekun dan terampil mencari terobosan dalam mengentaskan problematika.
Sementara itu, mewakili pihak LP3, Dr. Eko Supraptono menyampaikan kepada para peserta tentang pelbagai tawaran pelatihan yang bisa diikuti sebagai upaya meningkatkan profesionalitas tugas-tugas sebagai pendidik. Polanya bisa dengan kerjasama antar lembaga (sekolah dan LP3), maupun secara personal para guru untuk mendaftar langsung ke kantor LP3 UNNES Kampus Sekaran Gunungpati Semarang. Acara diahiri dengan diskusi yang sangat dinamis, dan ditutup oleh pejabat Kemenag Demak Drs. H Shofyan, M.Pd. Beliau berharap kerjasama dan agenda-agenda yang bersifat meningkatkan kualitas guru perlu terus digulirkan oleh UNNES. (es)